Selasa, 17 Agustus 2010

Perlawanan Atas Hegemoni Jawa

Ketegangan antara pusat dan daerah yang teraktualisasikan
berupa tuntutan merdeka di Aceh, Papua (Irian), Riau dan
Makassar (bahkan secara diam-diam sebenarnya daerah lain
juga), dengan segala latar penyebabnya, sebenarnya bukanlah
hal yang baru. Rezim Soehartolah yang begitu kokoh selama 3
dasawarsa berkuasa telah membuat banyak orang lupa adanya
akar-akar ketegangan tak terselesaikan di masa lalu.
Seharusnya bukannya orang-orang pintar dari Jawa yang kini
terkejut dengan segala tuntutan lokal itu, tapi orang-orang
pintar (?) itu layak terkejut bahwa selama ini mereka bisa
melupakan api dalam sekam itu.

Dalam rezim Soekarno ketegangan itu sebagian teraktualisasikan
dalam pemberontakan daerah, kemudian "ditumpas" tapi
sebenarnya tak berhasil, karena akar-akar wacananya tetap
hidup di daerah. Lalu dalam rezim sentralistik-represif
Soeharto, akar dari pucuk-pucuk pohon ketidakpuasan daerah
yang ditebang rezim Soekarno itu, malah terpupuk subur, bahkan
menciptakan tanaman ketegangan baru di daerah-daerah lain.
Studi tentang tema ketegangan pusat dengan daerah pada rezim
Soeharto, sekalipun tak banyak dan belum menghasilkan jawaban
yang memuaskan, hampir-hampir tak pernah diperhatikan orang
pintar dari Jawa. Studi dan analisis juga telah dilakukan
tentang era rezim Soekarno, dilakukan peneliti Barat dan
Indonesia. Sebutlah secara acak Kahin (1952), Feith (1963),
Harley (1974), Geertz (1963), terus ke Sjamsuddin (1990)
ataupun Lerissa (1991).

Sebagian dari hasil studi itu, (sekalipun konteks sudah
berubah dan kompleksitas permasalahannya berkembang) kini
mulai juga dipantulkan dan dijadikan argumen orang pintar dari
Jawa, termasuk sebagian para pejabat pemerintah, militer
termasuk anggota parlemen untuk menjelaskan ketegangan yang
sekarang terjadi. Argumen itu kini mendominasi media massa
Jakarta, dan solusi pemecahan yang ditawarkan masih sebatas
retorika pemberian hak otonomi dari pusat ke daerah dalam hal
keadilan sosial-ekonomi, otonomi politik, (plus tambahan
sekedar lampiran: otonomi budaya dan agama untuk Aceh).
Seakan-akan dengan itu semua keadaan menjadi beres, dan negeri
ini dapat lenggang kangkung berjalan menuju ke apa yang kini
disebut secara tak jelas sebagai "Indonesia Baru". Ini
merupakan suatu penggampangan kompleksitas permasalahan yang
patut disesalkan, karena pusat gempa politik itu sebenarnya
bukan berada pada wilayah ekonomi, ketidakadilan sosial dan
politik, tapi pada wilayah penolakan hegemoni Jawa.
Faktor-faktor ketidakadilan ekonomi, sosial dan politik
hanyalah faktor-faktor yang memperkuat, mempertajam, serta
memicu faktor utama, yakni faktor penolakan orang luar Jawa
untuk takluk dalam hegemoni Jawa.

Ketegangan pusat-daerah, Jawa-Luar Jawa itu, ingin saya lihat
jauh ke belakang, ke wacana abad-abad yang dilupakan melalui
sisi penolakan hegemoni politik Jawa dan pantulannya yang
sebangun (sekalipun tak sama) dengan masa kini. Kebetulan,
riset saya belakangan ini di Universitas Hamburg-Jerman,
memusatkan perhatian pada tema wacana teks klasik tentang
hubungan politik antara apa yang kini dikenal sebagai Jawa dan
Luar Jawa dalam konteks abad 16-18 (Die politischen
Beziehungen zwischen Malay und Java in der klassischer
malaiischer Texte).

Dalam tulisan berikut ini setiap kali penyebutan Jawa,
dimaksudkan bukan dalam artian etnik (suku) Jawa, melainkan
pusat kekuasaan yang ada di Jawa (Jakarta). Pusat kekuasaan
itu dikendalikan baik oleh penguasa orang Jawa, maupun oleh
orang luar Jawa yang telah menjadi bagian dari, dan pengabdi
pada, kekuasaan Jawa. Orang yang terakhir ini ingin saya
namakan sebagai "Orang Jawa-Luar", artinya orang Jawa yang
datang dari luar etnik Jawa. Dalam riset saya, ada pemisahan
yang tajam antara pusat kekuasaan politik Jawa di satu pihak
dengan peradaban Jawa di pihak lain. Hegemoni Jawa yang
dirujuk tulisan ini dimaksudkan pada kekuasaan politik Jawa
dan bukan pada peradaban Jawa dan bukan pada peradaban Jawa
yang sebenarnya tidak menimbulkan ketegangan. Peradaban Jawa
mendapat tempat penerimaan dalam beberapa kasus di luar Jawa,
sebaliknya kekuasaan politik Jawa mendapat penentangan juga
oleh pembelot-pembelot Jawa yang melarikan diri ke luar Jawa.

Sumber ketegangan utama Jawa-Luar Jawa temuan riset saya
adalah penolakan luar Jawa (dunia Melayu) terhadap hegemoni
politik Jawa (dalam teks Melayu direduksi menjadi Majapahit).
Padahal Jawa pada waktu itu tidak menaklukkan dunia luar Jawa
secara ekonomi dan teritorial dalam pengertian masa kini. Jika
fakta menunjukkan dalam Indonesia moderen bahwa Jawa telah
berperan sebagai penjarah ekonomi daerah dan sebagai penguasa
tunggal suatu kawasan nyaris seluas benua Eropa, maka hal itu
tidak berlangsung di dunia klasaik ini. Tapi ketegangan,
dendam kesumat dan kemuakan pada pusat kekuasaan Jawa telah
berlangsung di abad-abad yang lalu itu.

Teks-teks yang saya teliti merupakan wacana dari dunia Melayu
yang melakukan perlawanan terhadap hegemoni politik Jawa untuk
mengukuhkan kedaulatan di dunia mereka sendiri. Ini merupakan
wacana reaksi dan perlawanan dari orang yang secara politik
menolak untuk ditaklukkan Jawa. Dalam wacana Melayu, Majapahit
bukanlah pusat kekuatan yang besar, bertolak belakang dengan
wacana Jawa tentang Majapahit dalam teks Nagarakrtagama. Teks
Nagarakrtagama khususnya bagian ekspansi fasisme Jawa ke luar
Jawa dapat dianggap sebagai wacana angan-angan keangkuhan
hegemoni Jawa, dan bukan sebuah dokumen historis, sebagaimana
secara kontroversial pernah dibongkar Berg (1974). Sayangnya
Sejarah Nasional resmi Indonesia (yang tetap diagitasikan ke
jutaan murid sekolah Indonesia, termasuk murid di luar Jawa)
masih berdasar tahyul Majapahit raya dan teks Jawa
Nagarakrtagama. Tahyul ini telah diabsahkan sejarahwan Jawa
yang berperan sebagai Prapanca-prapanca moderen, mulai dari
Muhammad Yamin yang menjawakan dirinya sampai ke Nugroho
Notosusanto termasuk Sartono Kartodirdjo beserta "sejarahwan"
resmi yang menjadi pengikut setianya.

Jika teks Jawa Nagarakrtagama memuja kesuksesan ekspedisi
Majapahit menghancurkan dunia Melayu melalui ekspedisi
Pamalayu 1275, maka teks Melayu seakan mencemooh kesuksesan
ekspedisi yang secara historis meragukan itu. Jangankan sukses
menaklukkan Nusantara sebagaimana dengan angkuh dan
sesumbarnya disumpahkan Patih Gajah Mada yang fasis itu,
sedang Singapura sajapun tidak berhasil dihancurkan Majapahit.
Teks Sejarah Melayu (edisi Shellabear 1896) memperlihatkan
bagaimana militer Jawa pulang babak belur dengan kekalahan.
Bila Majapahit berhasil mengalahkan Singapura, maka itu
merupakan kemenangan murahan, karena Singapura kalah bukan
karena raksasa Majaphit lebih kuat, tapi karena pembelotan
elit di dalam negeri Singapura yang menyuruh dan membantu
Majapahit menikam Singapura dari belakang. Jadi wacana teks
dua kali menghancurkan wibawa dan martabat Majapahit. Pertama
Majapahit kalah berperang dengan Singapura, kedua Majapahit
hanya bisa menang perang di luar Jawa bila bekerjasama dengan
pengkhianat setempat.

Aceh yang diserbu Majapahit secara besar-besaran di dalam teks
Hikayat Raja-raja Pasai (Koleksi Raffles, MS 67) bukanlah Aceh
yang mudah menyerah. Sekalipun teks ini menyalahkan Sultan
Pasal yang memperlemah kekuatannya, tapi Majapahit sebenarnya
tidak berhasil mengalahkan Pasai. Pasai kalah oleh Majapahit
bukan karena militer Majapahit lebih kuat dari militer Pasai,
tapi karena Majapahit dibantu oleh aliansi kerajaan-kerajaan
Sumatera untuk mengeroyok Pasai yang ada dalam kondisi lemah.
Itupun dengan susah payah baru bisa Pasai dikalahkan. Tapi
Majapahit sebenarnya lebih dulu wibawa dan martabatnya
dihancurkan Pasai melalui simbolisasi demoralisasi anak
perempuan raja Majapahit yang menggilai anak Sultan Pasai
sampai nekat bunuh diri di perairan Aceh. Jadi teks ini dua
kali juga menghancurkan wibawa dan martabat Majapahit, Pertama
anak raja Majapahit mati bunuh diri karena menggilai anak
Sultan Pasai. Kedua, Majapahit tidak bisa sendirian
mengalahkan Pasai yang lagi lemah kalau tidak main kroyok
dengan kerajaan lain.

Wacana tentang Aceh klasik ini secara replektif bisa
dibandingkan dengan mengajukan pertanyaan apakah TNI
benar-benar bisa menaklukkan rakyat Aceh yang kelihatan dari
sudut militer lemah? Apakah dengan pendekatan represif di
Aceh, sekalipun rakyat Aceh banyak telah menjadi korban, pihak
TNI telah berhasil memperoleh kemenangan, ataukah justru jatuh
terjerembab wibawa dan martabatnya di mata rakyat dan dunia
internasional? Bila TNI dengan kekuatan militer masih terus
nekat ingin menegakkan hegemoni Jawa di Aceh, tidakkah itu
merupakan tindakan bunuh diri seperti puteri Majapahit yang
mati bunuh diri di Aceh?

Dalam teks Hikayat Raja-raja Pasai juga, orang-orang
Minangkabau menolak takluk dalam hegemoni Jawa degan
menunjukkan rendahnya kecerdasan penguasa Jawa dalam
menaklukkan Minangkabau. Kerbau kuat yang dibawa dari Jawa
mati berlaga dengan anak kerbau kurus Minangkabau dalam adu
kerbau tak seimbang yang sangat mendebarkan dan mempertaruhkan
harga diri Jawa di Minang. Matinya kerbau Jawa yang kekar dan
kuat oleh anak kerbau Minang yang kelaparan dan loyo dalam adu
kerbau itu menunjukkan penghinaan teks ini pada keangkuhan
penguasa Jawa. Jawa boleh kuat secara militer tapi bodoh
secara intelektual. Kebodohan yang akhirnya menggilas kekuatan
militernya sendiri. Pasukan Jawa yang harga dirinya sudah
jatuh karena harus menerima kekalahan perang simbolis itu,
masih dihancurkan lagi dengan kelicinan Minang yang membuat
pasukan militer Jawa yang moralnya sudah ambruk itu gampang
dibunuh. Kasus ini memperlihatkan cara berpikir penguasa Jawa
yang merasa paling tahu untuk mengatur kebijakan orang-orang
di luar Jawa. Cara berpikir yang merasa paling tahu tentang
kondisi dan kekuatan lokal yang jauh dari Jawa itu bukan hanya
tidak berhasil mencapai target yang diinginkan, tapi berakhir
jadi bumerang untuk Jawa.

Tidak hanya di luar Jawa kekuasaan Jawa itu dihancurkan. Sakin
geramnya dunia Melayu dalam menolak hegemoni Jawa, wacana
mereka juga menyerang dan menghancurkan wibawa dan martabat
Jawa jutru di Jawa. Hikayat Hang Tuah dan Hikayat Banjar
merupakan wacana untuk menghajar pusat kekuasaan Jawa yang
selama ini (melalui hegemoni Jawa itu) telah menghancurkan
kedaulatan dunia Melayu. Teks Hikayat Hang Tuah yang versi
salinannya ditemukan lebih 20 dan terbanyak tersimpan di
museum London itu, sangat radikal menampilkan kekuatan dan
kemarahan Melayu mengobrak-abrik istana Majapahit, membunuh
militer Jawa, mempermalukan raja Jawa dan panglima militernya,
serta meruntuhkan pusat sakral kekuasaan Jawa. Kemarahan dunia
Melayu terhadap Jawa sampai melumpuhkan pusat kekuasaan Jawa
ini dengan fokus yang lain, telah saya ungkapkan dalam tulisan
saya sebelumnya (Republika 3 Maret 1999). Perlawanan luar Jawa
terhadap hegemoni Jawa, dengan demikian bisa mencapai tahap
radikalnya, yang justru menghancurkan Jawa, tahap yang tak
terbayangkan oleh kekuasaan Jawa yang merasa diri paling kuat
di jagad Nusantara ini.

Teks Hikayat Banjar (Rass 1968) memperlihatkan bagaimana pusat
kekuasaan Jawa berhasil "ditaklukkan" oleh Banjar tanpa
perang. Penolakan hegemoni Jawa oleh kekuatan Banjar langsung
di Majapahit menghadirkan kegemparan di pusat kekuasaan
Majapahit karena teks benar-benar menghajar tanpa ampun wibawa
pusat kekuasaan Jawa. Raja Majapahit dan Gajah Mada beserta
jajaran elitnya di negerinya sendiri ditunjukkan jadi gemetar,
terpuruk ketakutan ketika mendengar Lambu Mengkurat, penguasa
Banjar, datang ke Majapahit. Raja Majapahit dalam pandangan
rakyat Jawa tanpa bisa melakukan perlawanan sedikit pun
benar-benar dihina dan direndahkan oleh penguasa Banjar itu.
Penguasa dari Kalimantan ini tidak mau tunduk pada Majapahit
karena dia menganggap kehebatan Raja Majapahit, kekayaan, dan
kekuatannya ada di bawah penguasa Banjar. Secara keseluruhan
teks ini merupakan reaksi paling ironis dalam melawan hegemoni
Jawa di Banjar, sebab pada bagian awal, teks dengan parodi
menonjolkan berlangsungnya hegemoni Jawa di Banjar, yang telah
menggiring dan menjadikan orang Banjar sebagai fotokopi dari
Jawa.

Ini sekadar sketsa beberapa contoh kasus wacana masa lalu dari
beberapa teks. Ada ratusan wacana masa lalu lainnya, tidak
hanya dalam teks klasik tapi dalam bentuk tradisi lisan yang
tersebar di luar Sumatera, seperti di daerah Sunda,
Kalimantan, Sulawesi ataupun kawasan timur Indonesia. Wacana
modern mungkin terekam dengan baik, atau tetap hidup segar
dalam pikiran orang-orang luar Jawa. Pada era rezim Soeharto
yang sentralistik-represif, wacana penolakan hegemoni Jawa
tidak mati, melainkan hidup bahkan berkembang sekalipun
melalui suara bisik-bisik di lorong sempit kampus-kampus luar
Jawa. Sebagian hadir berupa makian ataupun umpatan kekesalan
di kaki lima kota-kota luar Jawa, di kedai kopi
kampung-kampung terpencil, di tengah ladang dekat lintasan
pipa besar yang mengalirkan minyak ke Jawa, di tepi hutan yang
telah diluluhlantakkan pengusaha dari Jawa ataupun di depan
kantor Koramil yang tidak bisa tidak selalu membela
kepentingan Jawa.

Sedangkan tanpa pengambilan aset ekonomi dan penguasaan
wilayah pun perlawanan luar Jawa atas hegemoni Jawa tetap
berlangsung seperti yang ditunjukkan teks-teks klasik. Apalagi
kini hegemoni Jawa itu diikuti dengan penjarahan, penindasan
dan pembunuhan. Jika sekarang ketegangan itu meledak, maka
bila dilihat dari sisi luar Jawa, itu adalah ledakan bom waktu
yang sudah terlalu lama diyakini akan meledak. Untuk Aceh saat
ini mungkin sudah terlambat, entahlah kalau secepatnya
meloncat ke sistem federasi. Federasi mungkin menjadi
juruselamat, setidaknya untuk daerah-daerah yang belum
"panas". Keadaan bisa menjadi sulit jika melihat, sekarang
penguasa Jawa yang mengendalikan Indonesia masih menginginkan
luar Jawa sebagai daerah taklukan: persis seperti Gajah Mada
menginginkan jagad Nusantara ada dalam genggamannya. Penguasa
Jawa saat ini belum bisa menangkap (atau tidak mau menangkap)
suasana batiniah orang-orang luar Jawa yang dari dulu
sebenarnya tidak pernah mau diperintah dan dikendalikan oleh
"orang pintar" dan orang kuat yang jauh di Jawa sana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar